Rekonstruksi Tata Kelola Hasil Sedimentasi Laut Melalui Konsep Blue Justice Governance Sebagai Pencegahan Blue Washing Dan Ocean Grabbing di Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.58812/jhhws.v5i02.3517Kata Kunci:
Pengelolaan Hasil Sedimentasi Laut, Blue Justice Governance, Blue Washing, Ocean Grabbing, IndonesiaAbstrak
Indonesia sebagai negara maritim terus mendorong implementasi Blue Economy sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Namun, penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Hasil Sedimentasi di Laut justru memunculkan berbagai polemik akibat potensi eksploitasi ruang laut yang berdampak terhadap keberlanjutan ekosistem dan hak masyarakat pesisir. Kondisi tersebut menunjukkan adanya paradoks antara narasi keberlanjutan yang diusung negara dengan substansi regulasi yang berpotensi melegitimasi praktik Blue Washing dan Ocean Grabbing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelemahan normatif dalam tata kelola hasil sedimentasi laut berdasarkan PP 26/2023 serta merumuskan model rekonstruksi regulasi yang berorientasi pada keadilan ekologis. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Bahan hukum dianalisis secara preskriptif melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, doktrin hukum, serta literatur internasional terkait Blue Economy Governance. Penelitian ini menawarkan konsep Blue Justice Governance (BJG) sebagai model rekonstruksi tata kelola hasil sedimentasi laut yang berorientasi pada keadilan ekologis, perlindungan masyarakat pesisir, dan keberlanjutan lingkungan. BJG dibangun atas lima pilar utama, yaitu: (1) Ecological Precaution Principle; (2) Coastal Community Consent Mechanism; (3) Blue ESG Assessment; (4) Marine Biodiversity Protection Framework; serta (5) Intergenerational Ocean Justice. Hasil penelitian menegaskan bahwa rekonstruksi regulasi pengelolaan hasil sedimentasi laut menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah praktik Blue Washing dan Ocean Grabbing. BJG diproyeksikan menjadi model tata kelola kelautan yang adaptif, partisipatif, dan berkeadilan dalam mewujudkan pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan di Indonesia.
Referensi
Ali, Z. Z. (2017). Pemikiran Hegemoni Antonio Gramsci (1891-1937) di Italia. Jurnal Yaqzhan: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, 3(2), 63-81.
Arafah, W., Ismelina, M., Tawakal, A., & Yasin, A. M. (2025). Dilema Batu Bara:(Regulasi, Dampak Lingkungan Dan Transisi Energi Di Indonesia). Penerbit Berseri.
Arnstein, S. R. (1969). A ladder of citizen participation. Journal of the American Institute of planners, 35(4), 216-224.
Barbesgaard, M. (2018). Blue growth: savior or ocean grabbing?. The Journal of Peasant Studies, 45(1), 130-149.
Barbesgaard, M. (2025). The Class Dynamics of Ocean Grabbing: Who Are the ‘Fisher Peoples’?. Journal of Agrarian Change, 25(3), e70011.
Bennett, N. J., Blythe, J., White, C. S., & Campero, C. (2021). Blue growth and blue justice: Ten risks and solutions for the ocean economy. Marine Policy, 125, 104387.
Blythe, J. L., Gill, D. A., Claudet, J., Bennett, N. J., Gurney, G. G., Baggio, J. A., & Zafra-Calvo, N. (2023). Blue justice: A review of emerging scholarship and resistance movements. Cambridge Prisms: Coastal Futures, 1, e15.
Harvey, D. (1998). The body as an accumulation strategy. Environment and Planning D: Society and Space, 16(4), 401-421.
Hellweg, S., Benetto, E., Huijbregts, M. A., Verones, F., & Wood, R. (2023). Life-cycle assessment to guide solutions for the triple planetary crisis. Nature Reviews Earth & Environment, 4(7), 471-486.
Kurniawan, D., & Septianda, M. F. (2025). Sidelining sustainability: the impact of sea sand mining in Indonesia’s Riau islands. Marine Economics and Management, 1–20. https://doi.org/10.1108/maem-07-2025-0024.
Laskin, A. V., Luoma-aho, V., & Arti, A. (2026). Greenwashing, Bluewashing, Pinkwashing, and 50 Shades of Washings in Strategic Financial Communication. International Journal of Strategic Communication, 20(2), 151-172.
Macellari, M., Yuriev, A., Testa, F., & Boiral, O. (2021). Exploring bluewashing practices of alleged sustainability leaders through a counter-accounting analysis. Environmental Impact Assessment Review, 86, 106489.
Meyer, J. W., & Rowan, B. (1977). Institutionalized organizations: Formal structure as myth and ceremony. American journal of sociology, 83(2), 340-363.
Pauli, G. A. (2010). The blue economy: 10 years, 100 innovations, 100 million jobs. Paradigm publications.
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm 23.
Republika.com. (2021, 16 September). Peneliti BRIN: 115 Pulau di Indonesia Terancam Tenggelam!. Diakses pada 3 Mei 2026, dari https://penerbitdeepublish.com/teknik-menulis-a-2/https://news.republika.co.id/berita/qzj46g414/peneliti-brin-115-pulau-di-indonesia-terancam-tenggelam-part2.
Sailer, A., Wilfing, H., & Straus, E. (2022). Greenwashing and bluewashing in black Friday-related sustainable fashion marketing on Instagram. Sustainability, 14(3), 1494.
Saputra, M. A. B., Mahardika, E. R., & Kariim, S. A. (2023). Political direction of environmental management law in indonesia. Indonesian Journal of Environmental Law and Sustainable Development, 2(1), 33-68.
Scott, M. (2019). A response: Blue washing, ontology, eschatology and exploitation. Community Development Journal, 54(1), 145-151.
Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif, (Jakarta: Rajawali, 1995), hlm 70.
Worldbank.org. (2017, 6 Juni). What is the Blue Economy?. Diakses pada 30 April 2026 dari https://www.worldbank.org/en/news/infographic/2017/06/06/blue-economy.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Muhammad Rafli Mawla Rakhman

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
















