Pembuktian Unsur Pembuktian pada Sengketa Merek Dagang: Analisis Kasus Polo Ralph Lauren vs. Polo Indonesia

Penulis

  • Dr. Yuni Priskila Ginting S.H., M.H. Universitas Pelita Harapan
  • Joseph Radya Pandu Nararya Universitas Pelita Harapan
  • Abraham Jiavello Rumampuk Universitas Pelita Harapan
  • Steven Ignatius Chandra Universitas Pelita Harapan
  • Haganta Orvin Ginting Universitas Pelita Harapan
  • Jason Matthew Anthony Universitas Pelita Harapan
  • Olivia Panjiani Napitu Universitas Pelita Harapan
  • Elisabeth Prima Ratrisari Universitas Pelita Harapan

DOI:

https://doi.org/10.58812/jhhws.v5i03.2894

Kata Kunci:

Sengketa Merek, Mekanisme Pembuktian, Kepastian Hukum, Itikad Baik, Kepastian Administratif, Keadilan Substantif

Abstrak

Penelitian ini menganalisis mekanisme pembuktian dalam sengketa merek di Indonesia melalui studi putusan Polo by Ralph Lauren (Putusan PN Niaga Jakarta Pusat No. 83/Pdt.Sus-HKI/Merek/2022). Dengan pendekatan normatif-yuridis, kajian menelaah bagaimana hakim menilai bukti pendaftaran, bukti penggunaan, dan unsur itikad baik (bad faith). Temuan menunjukkan bahwa sistem first to file di Indonesia memberikan bobot signifikan pada kepastian administratif sertifikat pendaftaran menjadi bukti prima facie sementara bukti reputasi internasional dan klaim prior use sulit menyaingi kekuatan pembuktian administratif. Akibatnya, klaim bad faith yang tidak didukung bukti langsung cenderung gagal. Makalah ini menyimpulkan bahwa keseimbangan antara kepastian hukum dan keadilan substantif memerlukan interpretasi itikad baik yang lebih operasional dalam praktik peradilan merek. 

Referensi

Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS). (1994). World Trade Organization. Retrieved from https://www.wto.org/english/docs_e/legal_e/27-trips.pdf

Harsono, H. (2019). Asas perlindungan merek dalam perspektif first to file. Jurnal Legislasi Indonesia, 16(2), 175–188. https://doi.org/10.54629/jli.v16i2.175

Lindsey, T. (2020). Indonesian Intellectual Property Law and Reform. Melbourne: University of Melbourne Press.

Mertokusumo, S. (2010). Penemuan Hukum: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya.

Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. (2022). Putusan Nomor 83/Pdt.Sus-HKI/Merek/2022/PN Niaga Jakarta Pusat.

Radbruch, G. (1946). Gesetzliches Unrecht und übergesetzliches Recht. Süddeutsche Juristen-Zeitung, 1–5.

Rahardjo, B. (2021). Pembuktian penggunaan merek dalam gugatan pembatalan. Ius Quia Iustum, 28(2), 233–250. https://doi.org/10.20885/iustum.vol28.iss2.art5

Rahardjo, S. (2006). Hukum Progresif: Hukum yang Membebaskan. Jakarta: Kompas.

Rahardjo, S. (2009). Hukum yang Baik dan Adil. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Rifaldi, M., Islami, F., & Rahayu, R. (2023). Kajian hukum terhadap penyelesaian sengketa merek pada Polo by Ralph Lauren. Refleksi Hukum: Jurnal Ilmu Hukum, 8(2), 1–15. https://doi.org/10.24246/refleksihukum.v8i2.1-15

Santoso, B. (2019). Itikad baik dan perlindungan hukum dalam pendaftaran merek. Jurnal Hukum & Pembangunan, 49(2), 157–174. https://doi.org/10.21143/jhp.vol49.no2.157

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 252).

World Intellectual Property Organization (WIPO). (2001). Joint Recommendation Concerning Provisions on the Protection of Well-Known Marks. Retrieved from https://www.wipo.int/publications/en/details.jsp?id=243

Unduhan

Diterbitkan

2026-10-23

Cara Mengutip

Pembuktian Unsur Pembuktian pada Sengketa Merek Dagang: Analisis Kasus Polo Ralph Lauren vs. Polo Indonesia (Y. Ginting, J. R. Pandu Nararya, A. J. Rumampuk, S. I. Chandra, H. O. Ginting, J. M. Anthony, O. P. Napitu, & E. P. Ratrisari, Penerj.). (2026). Jurnal Hukum Dan HAM Wara Sains, 5(03), 605-616. https://doi.org/10.58812/jhhws.v5i03.2894