Bahasa sebagai Senjata Kekuasaan: AWK Fairclough dan Hegemoni Gramsci dalam Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar

Penulis

  • Fathimah Azzahra Universitas Singaperbangsa Karawang
  • Fajar Hariyanto Universitas Singaperbangsa Karawang
  • Hendry Roris P. Sianturi Universitas Singaperbangsa Karawang

DOI:

https://doi.org/10.58812/jmws.v5i07.3631

Kata Kunci:

Analisis Wacana Kritis, Hegemoni Gramsci, Representasi Kekuasaan, Komunikasi Kritis, Isu Lingkungan

Abstrak

Konflik antara korporasi tambang, aparat negara, dan masyarakat lokal di Indonesia kerap tidak terwakili dalam wacana publik arus utama, sehingga karya sastra hadir sebagai medium komunikasi alternatif yang menyuarakan realitas yang tersisih. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi kekuasaan dalam novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye sebagai praktik komunikasi sosial menggunakan integrasi Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough dan konsep hegemoni Antonio Gramsci. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik analisis tiga dimensi Fairclough: teks (mikro), praktik diskursif (meso), dan praktik sosiokultural (makro). Data dikumpulkan melalui teknik baca-catat dan pengkodean tematik terhadap kutipan novel yang merepresentasikan praktik kekuasaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuasaan dikomunikasikan melalui strategi linguistik berlapis: diksi koersif dan eufemistik, manipulasi modalitas, transitivitas, kalimat pasif, dan nominalisasi. Pada tataran meso, teks berdialog dengan wacana konflik agraria nyata di Indonesia melalui intertekstualitas. Pada tataran makro, novel merepresentasikan sistem hegemoni Gramscian yang lengkap sebagai dua moda dominasi yang saling melengkapi: konstruksi persetujuan melalui bahasa dan koersi fisik. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi AWK Fairclough dan hegemoni Gramsci dalam perspektif komunikasi kritis untuk membongkar mekanisme linguistik kekuasaan dalam fiksi populer. Implikasinya, novel populer dapat berfungsi sebagai ruang diskursif demistifikasi wacana kekuasaan yang efektif bagi khalayak luas.

Referensi

Arezha, S., Huda, A., & Susanto, D. (2024). Cermin eksploitasi ekososial pertambangan dalam novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye: Kajian sosiologi sastra Ian Watt. Jentera: Jurnal Bahasa dan Sastra, 13(2). https://doi.org/10.26499/jentera.v13i2.7758

BBC News Indonesia. (2021). Di mana ada tambang di situ ada penderitaan dan kerusakan lingkungan, nelangsa warga dan alam di lingkar tambang. Diakses dari https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-57346840

Damanik, Y., Wuriyani, E. P., & Daulay, M. A. J. (2024). Perjuangan perempuan pada novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye (Kajian Ekofeminisme). Perspektif: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Bahasa, 2(3), 270–286. https://doi.org/10.59059/perspektif.v2i3.1533

Dewi, E. N. K., Taum, Y. Y., & Purnomo, C. A. (2024). Kekerasan dalam Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar Karya Tere Liye: Perspektif Johan Galtung. Proceedings Series on Social Sciences & Humanities, 20, 320-326.

Eriyanto. (2008). Analisis wacana: Pengantar analisis teks media. LKiS.

Fairclough, N. (1989). Language and power. Longman.

Fairclough, N. (1992). Discourse and social change. Polity Press.

Fairclough, N. (1995). Critical discourse analysis: The critical study of language. Longman.

Firdaus, Y. A., & Firman, H. (2025). Analisis wacana kritis terhadap pernyataan Dedi Mulyadi tentang penghapusan wisuda sekolah: Perspektif Norman Fairclough. RELASI: Jurnal Penelitian Komunikasi, 5(4), 378–388.

Gramsci, A. (1971). Selections from the prison notebooks. International Publisher.

Hall, S. (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. Sage Publications.

Kompas. (2022, 9 Februari). Duduk Perkara Konflik di Desa Wadas yang Sebabkan Warga Dikepung dan Ditangkap Aparat. Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2022/02/09/18264541/duduk-perkara-konflik-di-desa-wadas-yang-sebabkan-warga-dikepung-dan?page=all

Liye, T. (2024). Teruslah bodoh jangan pintar. PT Sabak Grip Nusantara.

Maulidiastuti, S. F., & Ahmadi, A. (2024). Representasi hegemoni Gramsci dalam novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye. Eunoia, 5(1), 50–64.

Mongabay Indonesia. (2015). Lubang Bekas Tambang Batubara Itu Telah Merenggut 14 Nyawa. Diakses dari https://mongabay.co.id/2015/08/12/lubang-bekas-tambang-batubara-itu-telah-merenggut-14-nyawa/

Patria, N., & Arief, A. (2015). Antonio Gramsci Negara & Hegemoni. Pustaka Pelajar.

Prayogi, R. (2023). Media, wacana korupsi, dan analisis wacana kritis Norman Fairclough. Selat Media. Yogyakarta

Sari, W. P., Setyonegoro, A., & Priyanto, P. (2025). Analisis wacana kritis Norman Fairclough pada pemberitaan internasionalisasi bahasa Indonesia di media Antaranews.com. ISOLEK: Jurnal Pendidikan, Pengajaran, Bahasa, dan Sastra, 3(1), 366–379.

Sulistiyana, P. (2014). Representasi kemiskinan dalam novel Jatisaba karya Ramayda Akmal (Kajian Sosiologi Sastra). Bahtera Sastra: Antologi Bahasa dan Sastra Indonesia, 1(3). https://ejournal.upi.edu/index.php/BS_Antologi_Ind/article/view/519

Unduhan

Diterbitkan

2026-07-28

Cara Mengutip

Bahasa sebagai Senjata Kekuasaan: AWK Fairclough dan Hegemoni Gramsci dalam Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar. (2026). Jurnal Multidisiplin West Science, 5(07), 1503-1510. https://doi.org/10.58812/jmws.v5i07.3631