Analisis Tafsir Al-Ṭabarī Terhadap Surat Al-Naṣr Tentang Kemenangan Sebagai Tanda Tamatnya Dakwah

Penulis

  • M. Luqman Hakim Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro Nganjuk
  • Anwar Mukti Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro Nganjuk
  • Ahmad Nur Fathoni Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro Nganjuk
  • Moh. Bahrudin Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro Nganjuk
  • Agung Mandiro Cahyono Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro Nganjuk
  • Kuni Maftukhati Widiyaningrum Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro Nganjuk

DOI:

https://doi.org/10.58812/jmws.v1i02.3057

Kata Kunci:

Tafsir Al-Ṭabarī, Surat Al-Naṣr, Kemenangan, Dakwah, Spiritualitas Profetik

Abstrak

Surat al-Naṣr menempati posisi penting dalam sejarah kenabian karena kerap dipandang sebagai wahyu terakhir yang menandai penyempurnaan risalah Nabi Muhammad. Penelitian ini menganalisis penafsiran al-Ṭabarī atas surat tersebut dengan menyoroti tiga aspek utama: makna nashr (pertolongan), al-fatḥ (pembukaan/kemenangan), dan keterkaitannya dengan tanda berakhirnya misi kenabian. Menggunakan metode kualitatif-deskriptif berbasis studi kepustakaan, penelitian ini menjadikan Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān sebagai sumber primer dan melengkapinya dengan literatur tafsir klasik serta modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Ṭabarī memaknai “nashr Allāh” sebagai pertolongan Ilahi kepada Nabi dalam menghadapi Quraisy, sedangkan “al-fatḥ” secara spesifik dikaitkan dengan Fath Makkah. Adapun frasa “yadkhulūna fī dīnillāh afwājan” dipahami sebagai masuknya kabilah-kabilah Arab ke dalam Islam secara kolektif sebagai dampak langsung dari kemenangan tersebut. Melalui riwayat Ibn ‘Abbās dan ‘Āʾishah, al-Ṭabarī juga menegaskan bahwa surat ini merupakan na‘ā ilayhi nafsahu, yakni pemberitahuan Ilahi tentang kedekatan ajal Nabi. Temuan utama penelitian ini adalah bahwa kemenangan dalam perspektif al-Ṭabarī bukanlah puncak politik, melainkan simbol spiritual bagi penyempurnaan dakwah dan awal fase transendensi kenabian. Perintah tasbīḥ dan istighfār pada ayat terakhir dipahami sebagai respons etis-teologis terhadap keberhasilan, yang menegaskan bahwa kemenangan tertinggi adalah kerendahan hati seorang hamba di hadapan Allah. 

Referensi

Al-Munawwar, M. (2022). Rekontekstualisasi Tafsir Turāth dalam Studi Islam Modern. Jurnal Pendidikan dan Tafsir Al-Ma’ṡūr, 8(3), 123–135.

al-Qurṭubī, Abū ‘Abd Allāh Muḥammad ibn Aḥmad al-Anṣārī. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. 20 jilid. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1967.

Al-Ṭabarī, M. ibn Jarīr. (n.d.). Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān (Vol. 30, p. 671). Dār al-Tarbiyah wa al-Turāth / al-Maktabah al-Shāmilah.

al-Ṭabarī, Muḥammad ibn Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. 24 jilid. Beirut: Mu’assasat al-Risālah, 2000.

Arkoun, Mohammed. “Contemporary Critical Reason and the Qur’an.” In The Qur’an: Formative Interpretation, edited by Andrew Rippin, 202–223. Aldershot: Ashgate, 1999.

_______. Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers. Boulder: Westview Press, 1994.

Baidan, Nashruddin. “Perkembangan Metodologi Tafsir Al-Qur’an.” Jurnal Ulumul Qur’an 4, no. 3 (1993): 50–63.

Fakhr al-Rāzī, Muḥammad ibn ‘Umar. Mafātīḥ al-Ghayb (al-Tafsīr al-Kabīr). Beirut: Dār Ihyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1981.

Guillaume, Alfred, trans. The Life of Muhammad: A Translation of Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah. Oxford: Oxford University Press, 1955.

Hallaq, Wael B. “On the Authoritativeness of Sunni Consensus.” International Journal of Middle East Studies 18, no. 4 (1986): 427–454.

Ibn ‘Abbās, ‘Abd Allāh ibn ‘Abbās. Riwayat tafsirnya sebagaimana dihimpun dalam Jāmi‘ al-Bayān karya al-Ṭabarī. Beirut: Mu’assasat al-Risālah, 2000.

Ibn Kathīr, Ismā‘īl ibn ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. 8 jilid. Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999.

Ibn Zayd, ‘Abd al-Raḥmān. Riwayat-riwayatnya dalam Jāmi‘ al-Bayān karya al-Ṭabarī, ed. Aḥmad Muḥammad Shākir. Beirut: Mu’assasat al-Risālah, 2000.

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook (3rd ed.). Sage Publications.

Mujāhid ibn Jabr. Riwayat-riwayatnya dalam Jāmi‘ al-Bayān karya al-Ṭabarī. Beirut: Mu’assasat al-Risālah, 2000.

NU Online. (2021). Tafsir Surat al-Naṣr: Refleksi Kemenangan Rasulullah saat Fathu Makkah. https://nu.or.id/tafsir

Qomar, Mujamil. “Hermeneutika al-Qur’an dalam Tradisi Turāth dan Modernitas.” Religia: Jurnal Studi Islam Kontemporer 23, no. 2 (2020): 45–60.

Quraish Shihab, M. Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. 15 jilid. Jakarta: Lentera Hati, 2002.

_________. Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan, 1996.

Quṭb, Sayyid. Fī Ẓilāl al-Qur’ān. 6 jilid. Kairo: Dār al-Shurūq, 2003.

Rahman, Fazlur. Major Themes of the Qur’an. Minneapolis: Bibliotheca Islamica, 1980.

Saeed, Abdullah. Interpreting the Qur’an: Towards a Contemporary Approach. London: Routledge, 2006.

Watt, W. Montgomery. Muhammad at Medina. Oxford: Clarendon Press, 1956.

_______. Muhammad: Prophet and Statesman. Oxford: Oxford University Press, 1961.

Unduhan

Dimensions

Diterbitkan

2025-12-25

Cara Mengutip

Analisis Tafsir Al-Ṭabarī Terhadap Surat Al-Naṣr Tentang Kemenangan Sebagai Tanda Tamatnya Dakwah. (2025). Jurnal Multidisiplin West Science, 1(02), 336-348. https://doi.org/10.58812/jmws.v1i02.3057