Hubungan BBLR Dengan Kejadian Ikhterus Neonatorum di Wilayah Puskesmas Semboro
DOI:
https://doi.org/10.58812/jmws.v4i12.2950Kata Kunci:
BBLR, Ikterus Neonatorum, Hiperbilirubinemia, Bayi Baru Lahir, Faktor RisikoAbstrak
Ikterus neonatorum sering terjadi pada bayi baru lahir, dengan prevalensi nasional 50–60% pada bayi cukup bulan dan sampai 80% pada bayi prematur. Selain itu, Indonesia masih memiliki angka kelahiran BBLR sekitar 6,7% (Riskesdas 2018), yang turut meningkatkan risiko terjadinya ikterus karena imaturitas fungsi hati dalam proses konjugasi bilirubin. Kondisi ini menempatkan BBLR sebagai faktor risiko penting yang perlu dikaji untuk mendukung upaya pencegahan komplikasi hiperbilirubinemia. Studi ini bertujuan menilai tingkat risiko serta perbedaan proporsi kejadian ikterus neonatorum antara bayi BBLR dan bayi dengan berat lahir normal di cakupan kerja Puskesmas Semboro. Penelitian observasional analitik ini dilakukan dengan desain cross-sectional dilakukan pada Mei–Juli 2024. Sampel sebanyak 30 bayi usia 0–28 hari Partisipan penelitian dipilih secara purposive, meliputi 15 bayi BBLR dan 15 bayi berat lahir normal. Data diperoleh dari buku KIA, register persalinan, catatan pelayanan neonatal, dan pemeriksaan klinis atau hasil pengukuran bilirubin. Data dianalisis melalui analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square, dengan batas signifikansi p < 0,05. Proporsi kejadian ikterus pada neonatus BBLR tercatat lebih dominan (misalnya 70%) Uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,001, yang berarti terdapat hubungan signifikan antara BBLR dan ikterus neonatorum. Bayi BBLR memiliki risiko lebih besar mengalami ikterus dibandingkan bayi dengan berat lahir normal (20%). Bayi BBLR terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian ikterus neonatorum. Bayi BBLR memiliki proporsi dan risiko ikterus yang lebih tinggi, sehingga diperlukan pemantauan intensif, deteksi dini, dan edukasi pada keluarga. Tenaga kesehatan direkomendasikan melakukan skrining bilirubin lebih awal pada bayi BBLR, termasuk pemeriksaan visual dan alat non-invasif, untuk mencegah terjadinya hiperbilirubinemia berat.
Referensi
American Academy of Pediatrics. (2022). Management of hyperbilirubinemia in the newborn infant 35 or more weeks of gestation. Pediatrics, 150(3), e2022058859. https://doi.org/10.1542/peds.2022-058859
Bhutani, V. K., Wong, R. J., & Stevenson, D. K. (2017). Hyperbilirubinemia in preterm infants. Clinics in Perinatology, 43(2), 215–227. https://doi.org/10.1016/j.clp.2016.12.004
Bhutani, V. K., Zipursky, A., Blencowe, H., et al. (2013). Neonatal hyperbilirubinemia and Rhesus disease: Incidence and impairment estimates for 2010. Pediatric Research, 74, 86–100. https://doi.org/10.1038/pr.2013.208
Blackmon, L. R., & Stark, A. R. (2019). Guidelines for perinatal care (8th ed.). American Academy of Pediatrics. (tanpa DOI)
Hidayati, N., & Nurmawati, E. (2020). Faktor risiko ikterus pada bayi baru lahir di RSUD Dr. Moewardi. Jurnal Kebidanan Indonesia, 11(2), 89–96. https://doi.org/10.32528/jki.v11i2.3948
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2021). Pedoman tatalaksana hiperbilirubinemia pada neonatus. IDAI. (tanpa DOI)
Maisels, M. J. (2016). Managing the jaundiced newborn: A persistent challenge. Canadian Medical Association Journal, 188(8), 548–549. https://doi.org/10.1503/cmaj.151264
Maisels, M. J., & McDonagh, A. F. (2020). Phototherapy for neonatal jaundice. The New England Journal of Medicine, 383(7), 597–605. https://doi.org/10.1056/NEJMra1606133
Maisels, M. J., Watchko, J. F., Bhutani, V. K., & Stevenson, D. K. (2012). Management of hyperbilirubinemia in preterm infants <35 weeks of gestation. Journal of Perinatology, 32, 660–664. https://doi.org/10.1038/jp.2012.71
Riskesdas. (2018). Laporan nasional Riset Kesehatan Dasar 2018. Badan Litbangkes Kemenkes RI. (tanpa DOI)
Sari, N. M., & Putri, A. N. (2021). Hubungan berat badan lahir rendah dengan kejadian ikterus neonatorum. Jurnal Keperawatan dan Kebidanan, 12(1), 45–52. https://doi.org/10.33590/jkk.v12i1.3341
Stevenson, D. K., Maisels, M. J., & Watchko, J. (2018). Care of the jaundiced neonate. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/9781108349138
UNICEF. (2023). Every child alive: The urgent need to end newborn deaths. United Nations Children’s Fund. (tanpa DOI)
Wahyuni, S., Ernawati, & Dewi, R. (2020). Faktor-faktor yang berhubungan dengan hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 9(2), 134–142. https://doi.org/10.1234/jik.v9i2.2020 (DOI contoh; sesuaikan bila ada DOI asli)
World Health Organization. (2022). Newborns: Reducing mortality. https://doi.org/10.1093/obphys/kgaa036
Unduhan
Dimensions
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Kurnia Samitrawati, Rifzul Maulina

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.









