Geologi dan Hubungan Karakteristik Fisik Batubara Berdasarkan Lingkungan Pengendapan Pada Daerah Separi, Kec. Tenggarong Seberang, Kab. Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
DOI:
https://doi.org/10.58812/jgws.v4i02.3621Kata Kunci:
Batubara, Formasi Balikpapan, Litotipe, Maseral, Lingkungan PengendapanAbstrak
Ketidakseragaman variasi karakteristik fisik batubara merekam kondisi pembentukan gambut untuk mendukung penafsiran lingkungan pengendapan batubara, sehingga pemahaman faktor pengendalinya menjadi kunci untuk memprediksi sebaran batubara serta mendukung dalam kegiatan eksplorasi. Formasi Balikpapan Daerah Separi blom terpetakan secara terpadu pada Lingkungan pengendapan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi geologi daerah penelitian, menganalisis karakteristik fisik batubara, menafsirkan lingkungan pengendapannya, dan mengungkap hubungan sistematik di antara keduanya. Metode penelitian mencakup pemetaan geologi permukaan, analisis data well logging, analisis maseral, serta identifikasi palinologi. Seluruh data tersebut diintegrasikan melalui interpretasi litofasies dan diagram fasies batubara TPI-GI serta GWI-VI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian tersusun atas dua satuan batuan tak resmi dalam Formasi Balikpapan berumur Miosen Tengah, yaitu Satuan Batupasir dan Satuan Batulempung Balikpapan. Pada daerah tersebut berkembang sesar naik Separi bertipe left reverse slip fault. Batubara terekam pada enam seam, yakni seam 1, 2, 4, 9, 10, dan 11, dengan delapan litotipe yang mencerminkan ragam kondisi pembentukannya. Komposisi maseral didominasi vitrinit dengan collodetrinit sebagai penyusun utama dan menghasilkan nilai GI yang tinggi (0,2-52,54) nilai tersebut menandakan gelifikasi intensif pada lingkungan pengendapan marsh wet memiliki tingkat oksigen yang rendah dikarenakan genangan air yang tinggi menciptakan kondisi anoksik (minim oksigen). Sistem pengendapan ditafsirkan sebagai lower delta plain yang dicirikan oleh empat asosiasi fasies, yaitu channel, interdistributary bay, crevasse splay, dan swamp, serta diperkuat oleh asosiasi palinologi penciri back mangrove. Karakteristik fisik batubara mencerminkan lingkungan pengendapannya terhadap keberadaan litotipe bright coal dan banded bright coal yang kaya vitrinit terbentuk pada rawa stabil, sedangkan dull coal, shaly coal, dan claystone berpengotor tinggi berkembang pada interdistributary bay. Pirit framboidal pada seam 1, 9, dan 11 merekam intrusi air laut pada lingkungan anoksik.
Referensi
Bachtiar, A., Purnama, Y. S., Suandhi, P. A., Krisyunianto, A., Rozalli, M., Nugroho, D. H. H., & Suleiman, A. (2013). The Tertiary paleogeography of the Kutai Basin and its unexplored hydrocarbon plays.
Calder, J. H., Gibling, M. R., & Mukhopadhyay, P. K. (1991). Peat formation in a westphalian B piedmont setting, cumberland basin, Nova Scotia: Implications for the maceral-based interpretation of rheotrophic and raised paleomires. Contribution series No. 91-002.
Diessel, C. F. K. (1965). Correlation of macro-and micropetrography of some New South Wales coals. Proceedings-General, 6, 669–677.
Diessel, C. F. K. (1986). On the correlation between coal facies and depositional environments. Proceeding of 20th Symposium of Deparment of Geology. University Newcastle, NSW pp 19-22.
Horne, J. C., Ferm, J. C., Caruccio, F. T., & Baganz, dan B. P. (1978). Depositional models in coal exploration and mine planning in Appalachian region. AAPG Bulletin, 62(12), 2379–2411.
Indonesia, K. S. S. (1996). Sandi Stratigrafi Indonesia. Ikatan Ahli Geologi Indonesia, 14.
Jamaluddin, Schöpfer, K., Wagreich, M., Maria, Gier, S., & Fathy, D. (2024b). Effect of Depositional Environment and Climate on Organic Matter Enrichment in Sediments of the Upper Miocene–Pliocene Kampungbaru Formation, Lower Kutai Basin, Indonesia. Geosciences, 14(6), 164.
Jamaluddin, Wagreich, M., Gier, S., Schöpfer, K., & Battu, D. P. (2023). Sedimentary Environments and Paleoclimate Control of the Middle Miocene Balikpapan Group, Lower Kutai Basin (Indonesia): Implications for Evaluation of the Hydrocarbon Potential. Minerals, 13(10), 1259.
Lamberson, M. N., Bustin, R. M., & Kalkreuth, W. (1991). Lithotype (maceral) composition and variation as correlated with paleo-wetland environments, Gates Formation, northeastern British Columbia, Canada. International Journal of Coal Geology, 18(1–2), 87–124.
Margaesa, D., Isnaniawardhani, V., & Mardiana, U. (2013). FASIES PENGENDAPAN BATUBARA SEAM X25 FORMASI BALIKPAPAN BERDASARKAN LOG INSIDE CASING DI DAERAH SEPARI, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR. Buletin Sumber Daya Geologi, 8(3), 141-152.
McClay, K., Dooley, T., Ferguson, A., & Poblet, J. (2000). Tectonic evolution of the Sanga Sanga Block, Mahakam Delta, Kalimantan, Indonesia. AAPG Bulletin, 84(6), 765–786.
Morley, R. J. (1998). Palynological evidence for Tertiary plant dispersals in the SE Asian region in relation to plate tectonics and climate. Biogeography and Geological Evolution of SE Asia, 1, 211–234.
Moss, S. J., & Chambers, J. L. C. (1999). Tertiary facies architecture in the Kutai basin, Kalimantan, Indonesia. Journal of Asian Earth Sciences, 17(1–2), 157–181.
Nichols, G. (2009). Introduction: Sedimentology and stratigraphy. In Sedimentology and Stratigraphy.
Satyana, A. H., Nugroho, D., & Surantoko, I. (1999). Tectonic controls on the hydrocarbon habitats of the Barito, Kutei, and Tarakan Basins, Eastern Kalimantan, Indonesia: major dissimilarities in adjoining basins. Journal of Asian Earth Sciences, 17(1–2), 99–122.
Selley, R., C. (1985). Ancient Sedimentary Environment 3rd Edition. Cornell University Press.
Suhayadi, F. (2022). Kajian Lingkungan Pengendapan Berdasarkan Karakteristik Batubara Formasi Pulau Balang. Jurnal Riset Teknik Pertambangan, 1-8.
Supriatna, S., Sukardi, & Rustandi, E. (1995). Geological Map Of The Samarinda Sheet, Kalimantan 1:250.000 Scale. Geological Research And Development Centre 1995.
Taylor, G. H., Teichmüller, M., Davis, A., Diessel, C. F. K., Littke, R., & Robert, P. (1998). Organic petrology.
Tresnanto, T., Andriana S., Y., & Muljana, B. (2014). Analisis Anomali Kandungan Total Sulfur dalam Penentuan Lingkungan Pengendapan Batubara Seam X78 Formasi Balikpapan di Daerah Separi, Kalimantan Timur. Buletin Sumber Daya Geologi, 9(2), 121–138.
Win, C. T. (2014). A Comparison of Maceral and Microlithotype Indices for Interpretation of Coals in the Samarinda Area, Lower Kutai Basin, Indonesia. Advances in Geology, 2014, Artikel 571895.
Yuniardi, Y. (2012). Petroleum System Cekungan Kutai Bagian Bawah, Daerah Balikpapan dan Sekitarnya, Propinsi Kalimantan Timur. Bulletin of Scientific Contribution, 10(1), 12–17.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Muhammad Gangsar Adhiya Rizky, Novrijal Ramadhany, Bayu Satrio Nugroho, Setia Pambudi

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.









